BPBD DKI: 123 RT dan 9 Ruas Jalan Tergenang Imbas Hujan Deras Guyur Jakarta Jumat 20 Februari 2026 – Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta sejak dini hari pada Jumat, 20 Februari 2026, menyebabkan banjir meluas di sejumlah kawasan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan genangan muncul di permukiman warga maupun ruas jalan utama sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Data BPBD menunjukkan kondisi banjir terus berkembang seiring intensitas hujan yang tinggi sejak malam sebelumnya hingga pagi hari. Curah hujan deras membuat sejumlah sungai meluap dan mempercepat munculnya genangan di wilayah rawan banjir.
Data Terbaru BPBD DKI
Menurut laporan resmi BPBD DKI Jakarta per pukul 12.00 WIB, terdapat 123 RT dan 9 ruas jalan yang tergenang air akibat hujan deras.
Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan banjir dan melakukan penanganan di lokasi terdampak.
Sebelumnya pada pagi hari, jumlah wilayah terdampak masih lebih sedikit. Data pukul 07.00 WIB mencatat sekitar 61 RT dan 6 ruas jalan tergenang, menunjukkan bahwa banjir meluas seiring waktu.
Sebaran Wilayah Terdampak
Wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan menjadi daerah paling banyak terdampak genangan. Kedua kawasan ini dilaporkan mengalami banjir akibat kombinasi hujan intens dan luapan sungai di sekitarnya.
Contohnya di Jakarta Selatan, genangan terjadi di sejumlah kelurahan seperti Cilandak Barat, Cipete Utara, Petogogan, dan Pondok Pinang dengan ketinggian air berkisar 30–90 cm.
Bahkan di beberapa titik, ketinggian air dilaporkan jauh lebih tinggi. Di Kelurahan Cipulir, Kebayoran Lama, tinggi muka air mencapai 140 cm akibat luapan Kali Pesanggrahan.
Kondisi di Lapangan
Di beberapa lokasi, genangan berangsur surut setelah hujan berhenti. Di Cipete Utara, misalnya, ketinggian air sempat mencapai 70–80 cm pada pagi hari lalu turun menjadi sekitar 30 cm.
Petugas kelurahan dan BPBD setempat terus memantau kondisi warga, menyiapkan bantuan evakuasi, serta membersihkan area terdampak setelah air surut.
Penyebab Banjir dan Faktor Risiko
Banjir di Jakarta pada 20 Februari 2026 dipicu curah hujan tinggi yang turun terus-menerus sejak malam sebelumnya. Selain itu, luapan sungai seperti Kali Krukut, Kali Ciliwung, dan Kali Pesanggrahan memperparah kondisi genangan di kawasan permukiman.
BPBD juga mencatat bahwa wilayah dekat aliran sungai lebih cepat tergenang karena debit air meningkat drastis dalam waktu singkat.
Data tinggi muka air pintu air menunjukkan peningkatan signifikan pada beberapa titik pemantauan pada hari yang sama, menandakan aliran air dari hulu turut memengaruhi kondisi di Jakarta.
Dampak terhadap Aktivitas Warga
Genangan di jalan utama menyebabkan mobilitas masyarakat terganggu, terutama di kawasan yang tergenang cukup tinggi.
Di beberapa lokasi permukiman, warga memilih tetap bertahan di rumah sambil memantau ketinggian air. Hal ini dilakukan karena air relatif stabil dan belum memerlukan evakuasi besar-besaran.
Selain gangguan transportasi, aktivitas ekonomi lokal juga ikut terhambat. Pasar dan fasilitas umum yang tergenang membuat sebagian warga Tuna55 menunda aktivitas hingga kondisi membaik.
Upaya Penanganan BPBD dan Instansi Terkait
BPBD DKI Jakarta bersama instansi terkait seperti Dinas Sumber Daya Air, petugas PPSU, dan tim pemadam kebakaran disiagakan di berbagai pos untuk memantau situasi.
Petugas juga menyiapkan peralatan seperti perahu karet guna membantu evakuasi bila kondisi memburuk.
Selain itu, BPBD menegaskan akan terus memperbarui data genangan dan melakukan penanganan hingga seluruh titik banjir surut.
Banjir yang melanda Jakarta pada Jumat, 20 Februari 2026, menunjukkan betapa rentannya ibu kota terhadap curah hujan ekstrem. Dalam hitungan jam, jumlah wilayah terdampak meningkat hingga mencapai 123 RT dan 9 ruas jalan.
Meski sebagian wilayah mulai surut, kondisi ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Dengan pemantauan intensif dari BPBD dan instansi terkait, diharapkan genangan dapat segera tertangani dan aktivitas warga kembali normal.