Total kekayaan gabungan 50 orang terkaya di Hong Kong mencatat lonjakan signifikan pada 2025, dipicu berbagai faktor ekonomi dan pasar modal yang menguat. Salah satu pendorong utamanya adalah maraknya aksi penawaran saham perdana (IPO) serta membaiknya sektor properti yang sebelumnya sempat tertekan. Kombinasi kondisi tersebut menjadikan bursa saham Hong Kong sebagai salah satu pasar dengan performa terbaik di kawasan Asia sepanjang tahun lalu. Indeks acuan Hang Seng bahkan tercatat melonjak hampir 30 persen, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi wilayah tersebut.
Tren Positif Total Kekayaan di Hong Kong
Sejalan dengan tren positif itu, total kekayaan bersih kolektif para miliarder Hong Kong mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Nilainya naik menjadi sekitar USD 366 miliar atau setara Rp 6.163 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.840 per dolar AS). Angka ini meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level USD 301 miliar atau sekitar Rp 5.069 triliun. Data yang dirilis Forbes pada Rabu (18/2/2026) menunjukkan bahwa sebagian besar orang terkaya mengalami pertumbuhan aset signifikan selama periode tersebut.
Dari 50 nama dalam daftar, sebanyak 36 orang berhasil menambah kekayaan mereka. Salah satu yang mencatat kenaikan terbesar adalah pengusaha legendaris Li Ka-shing. Ia kembali mempertahankan posisinya sebagai individu paling tajir di Hong Kong setelah hartanya bertambah USD 7,8 miliar atau sekitar Rp 131,35 triliun—kenaikan tertinggi dalam denominasi dolar AS tahun ini. Total kekayaan Li kini mencapai USD 45,1 miliar atau setara Rp 759,52 triliun.
Lonjakan Ini Berkat Saham CK Hutchison Holdings
Lonjakan tersebut tak lepas dari kinerja saham CK Hutchison Holdings miliknya yang melesat lebih dari 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, rencana perusahaan untuk melepas saham pada 43 pelabuhan di 23 negara kepada konsorsium yang dipimpin BlackRock sempat tertunda karena pengawasan ketat dari otoritas Beijing. Harapan penyelesaian transaksi bernilai miliaran dolar itu sempat meningkat setelah muncul kabar bahwa perusahaan pelayaran milik negara China, Cosco Shipping, mungkin ikut terlibat sebagai investor. Namun pada Januari, Mahkamah Agung Panama membatalkan dua kontrak pelabuhan CK Hutchison, sehingga menimbulkan ketidakpastian baru terhadap rencana penjualan tersebut.
Di posisi kedua daftar orang terkaya Hong Kong muncul nama baru, yakni saudara Peter dan Martin Lee. Keduanya merupakan chairman bersama raksasa properti Henderson Land Development. Kekayaan bersih gabungan mereka mencapai USD 34,9 miliar atau sekitar Rp 587,7 triliun yang diwarisi dari ayah mereka, Lee Shau Kee, yang wafat pada Maret tahun lalu di usia 97 tahun. Nilai kekayaan itu meningkat seiring kenaikan saham Henderson Land lebih dari 40 persen, didorong proyek-proyek baru perusahaan, termasuk Central Yards—kompleks perkantoran dan ritel senilai USD 8,1 miliar yang menghadap Pelabuhan Victoria dan dijadwalkan mulai beroperasi bertahap pada 2027.
Sementara itu, pengusaha properti sekaligus perhiasan Henry Cheng tetap menempati posisi ketiga, meskipun unit properti terdaftarnya, New World Development, menghadapi persoalan utang dan kemungkinan penjualan saham oleh pemegang kendali. Meski ada tantangan tersebut, kekayaan keluarga Cheng tetap naik USD 6,6 miliar menjadi USD 26,1 miliar atau sekitar Rp 439,5 triliun. Pendorong utamanya adalah saham Chow Tai Fook Jewellery Group yang hampir dua kali lipat akibat lonjakan harga emas global.
Beberapa nama lain juga mencatat pertumbuhan mencolok. Keluarga Keswick misalnya, mengalami kenaikan kekayaan hampir 90 persen hingga mencapai USD 4,6 miliar atau sekitar Rp 77,4 triliun. Saham perusahaan konglomerasi mereka, Jardine Matheson Holdings, terdongkrak oleh sejumlah transaksi merger dan akuisisi yang diinisiasi chairman eksekutif Ben Keswick. Salah satu langkah strategisnya adalah privatisasi jaringan hotel mewah Mandarin Oriental International.
Keluarga Sohmen-Pao Pendatang Baru
Daftar tahun ini juga menghadirkan pendatang baru, yakni keluarga Sohmen-Pao. Mereka merupakan ahli waris taipan pelayaran Helmut Sohmen yang meninggal dunia pada Oktober lalu di usia 86 tahun. Keluarga ini langsung masuk daftar dengan kekayaan sekitar USD 5,7 miliar atau setara Rp 95,9 triliun.
Selain itu, Allan Wong—chairman sekaligus CEO produsen mainan edukatif VTech Holdings—kembali masuk daftar setelah sempat absen selama setahun. Walau penjualan perusahaan menurun dalam enam bulan hingga September, sahamnya justru naik sekitar 15 persen berkat meredanya ketegangan tarif perdagangan dengan Amerika Serikat. Di sisi lain, taipan properti Vincent Lo sebenarnya mengalami peningkatan kekayaan, tetapi tetap tersingkir dari daftar karena ambang batas kekayaan minimum untuk masuk peringkat naik menjadi rekor baru USD 1,6 miliar atau sekitar Rp 26,9 triliun, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang sebesar USD 1,4 miliar.
Secara keseluruhan, daftar orang terkaya Hong Kong tahun ini mencerminkan pemulihan ekonomi yang kuat, didorong kinerja pasar saham, proyek properti berskala besar, serta peluang investasi global. Lonjakan kekayaan kolektif para miliarder ini juga menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap stabilitas finansial dan prospek pertumbuhan wilayah tersebut dalam jangka menengah hingga panjang. Tuna55