You are currently viewing Ketegangan Iran Meningkat, AS hingga China Tarik Diplomat dari Timur Tengah

Ketegangan Iran Meningkat, AS hingga China Tarik Diplomat dari Timur Tengah

Ketegangan Iran Meningkat, AS hingga China Tarik Diplomat dari Timur TengahSejumlah negara besar seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan China mulai menarik sebagian staf kedutaan mereka dari kawasan Timur Tengah menyusul kekhawatiran konflik berskala luas akan pecah. Keputusan ini diambil setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan bernada skeptis terkait jalur diplomasi guna mencegah kemungkinan serangan udara terhadap Iran.

“Saya tidak puas dengan proses perundingan ini,” kata Trump kepada awak media di Texas, Jumat (27/2). “Kami memang sedang bernegosiasi, tetapi jawaban yang diberikan tidak sesuai harapan.”

Ketika ditanya seberapa dekat dirinya dengan opsi aksi militer, Trump enggan memberikan jawaban tegas. “Lebih baik saya tidak membahasnya,” ujarnya singkat.

Pada Jumat pagi, pemerintah AS memberikan izin bagi staf non-esensial di kedutaannya di Yerusalem untuk meninggalkan Israel. Langkah tersebut diambil karena Israel dinilai berisiko tinggi menjadi sasaran balasan Iran apabila terlibat dalam operasi militer AS.

Sebelumnya, Washington juga telah mengeluarkan instruksi serupa bagi misi diplomatiknya di Beirut pada awal pekan. Selain AS, Inggris, China, dan India turut mengimbau warga serta diplomat mereka untuk menjauhi wilayah-wilayah rawan di Timur Tengah.

Jumlah negara yang mengeluarkan peringatan serupa terus bertambah, termasuk Australia, Polandia, Finlandia, Swedia, dan Singapura. Bahkan, Inggris memastikan akan menarik sementara sebagian staf diplomatiknya dari Iran.

Peningkatan tensi ini terjadi di tengah mobilisasi kekuatan militer AS secara besar-besaran di kawasan tersebut, meskipun pembahasan mengenai program nuklir Teheran masih berjalan. Dalam pertemuan terbaru di Jenewa pada Kamis, kedua pihak sepakat melanjutkan dialog pekan depan di Wina.

Kendati Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyebut “peluang damai masih terbuka” usai bertemu Wakil Presiden JD Vance, pernyataan Trump justru mengindikasikan arah berbeda.

“Kami belum mengambil keputusan final,” ujar Trump mengenai kemungkinan serangan udara. “Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan kami tidak puas dengan pendekatan mereka dalam berunding.”

Sumber yang mengetahui posisi Washington menyatakan bahwa delegasi AS—yang dipimpin utusan khusus Steve Witkoff bersama menantu Trump, Jared Kushner—meninggalkan Jenewa dengan rasa kecewa terhadap hasil pembicaraan.

Ketidakpastian ini turut mengguncang pasar global. Harga minyak mentah Brent naik hingga 3,2% ke level US$73 per barel di London pada Jumat, tertinggi secara harian sejak Juli lalu. Namun Trump menepis kekhawatiran terkait kenaikan harga energi. “Saya lebih mengutamakan keselamatan manusia dan stabilitas jangka panjang negara ini,” tegasnya.

Potensi keterlibatan Israel dalam konflik Tuna55 juga memberi tekanan pada pasar keuangan negara tersebut. Mata uang shekel mencatat pelemahan terburuknya dalam dua hari terakhir sejak konflik 12 hari dengan Iran pada Juni silam.

Dalam pembaruan kebijakan diplomatiknya, Washington menyarankan pegawai non-esensial dan keluarga mereka mempertimbangkan keluar dari Israel selama penerbangan komersial masih tersedia. Sejumlah maskapai bahkan telah menghentikan sementara layanan menuju Tel Aviv, pusat ekonomi Israel.

Kedutaan Besar AS juga membuka kemungkinan pembatasan perjalanan stafnya ke area tertentu seperti Kota Tua Yerusalem dan wilayah Tepi Barat.

Meski menyatakan jalur diplomasi belum tertutup, pemerintahan Trump terus memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.

Kapal induk kedua, USS Gerald R. Ford, dilaporkan telah memasuki kawasan dan berada di perairan dekat Israel, menurut media setempat. Kapal tersebut berpotensi digunakan untuk mendukung operasi militer terhadap Iran atau memperkuat pertahanan Israel dan kepentingan AS dari kemungkinan serangan balasan.

Ketegangan regional ini juga berdampak pada sektor pelayaran global. Dua dari lima perusahaan pelayaran kontainer terbesar dunia mengalihkan sebagian armadanya dari Laut Merah, wilayah yang menjadi basis aktivitas militan Houthi yang didukung Iran.

Perusahaan Denmark A.P. Moller-Maersk A/S menyebut adanya “gangguan tak terduga” yang membuat mereka mengubah rute kapal melalui selatan Afrika, menghindari Terusan Suez.

Langkah serupa ditempuh Hapag-Lloyd AG yang berbasis di Hamburg, Jerman—mitra Maersk dalam aliansi pelayaran—yang juga menyampaikan adanya hambatan terhadap dukungan keamanan di kawasan Laut Merah.

Leave a Reply